PATROLI

INDEPENDENT & OBJEKTIF

Budaya

“Aduna, Terre d’Aventure”
Kebebasan Bertualang dari Gerak Hip Hop

Oleh
John Js

Jakarta – Situasi panggung yang bercahaya kelam kabut tanpa corak keceriaan mewarnai penampilan tari hip hop dari kelompok Etha-dam pimpinan Ibrahima Sissoko di Graha Bhakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki, Selasa (27/5) malam.
ebebasan gerak baru dari koreografi tari hip hop yang berbauran performa teatrikal, pantomim, dan capoeira berusaha menghibur sekitar 800-an penonton yang dikuasai kaum muda.
Secara keterampilan teknis dan daya cipta serta perpaduan kreatif, tujuh penari yang menampilkan tajuk “Aduna, Terre d’aventure” malam itu, mengesankan suatu pertunjukan yang tak sekadar atraksi atau akrobatik jalanan yang cuma pamer keahlian belaka.
Mereka bercerita tentang petualangan mimpi kebebasan, yang sebagian dari wilayah pencariannya membentuk pengalaman baru yang indah sekaligus ganjil, dan sesekali bisa juga membosankan. Ini karena tarian tersebut hadir dengan tujuan menelusuri jejak sekelompok manusia yang berangkat menjalani takdir masing-masing. Maka ada nuansa kehidupan yang kemungkinan berbeda dari alam kenyataan.
Sesuai dengan makna Aduna yang merincikan suatu konsep tentang kehidupan, duniawi dan takdir kemanusiaan. Sebagian gerak-gerik hip hop yang tercipta cenderung menyajikan ilusi yang memukau, namun sebaliknya bisa menjadi atraksi biasa (sehari-hari) sesuai yang sering dilakukan penari genre sejenis di mana-mana.
Apa yang dikondisikan dalam petualangan Etha-dam memang bukan pertunjukan tari hip hop biasa. Maka konsep musik pengiringnya pun tak perlu meriah banget, ia malah bermain dengan gabungan musik etnis yang mendunia, seakan sengaja tak ingin membawa penonton untuk ikut bergoyang.
Mereka mencoba mengajak penonton larut sepenuhnya dengan konsep gaya koreografi dan imajinasi hip hop yang benar-benar milik Etha-dam. Bukan seperti apa yang kemungkinan terlihat di pinggir jalan, rumahan, panggung pertunjukan, konser pop ataupun layar televisi.
Jadi, mereka mempersilakan penonton bertepuk tangan dengan apa saja gerakan hip hop dan gaya akrobatis yang tersajikan. Selebihnya, seakan mereka meminta tolong menghargai mimpi kreativitas dan petualangan daya cipta seni yang ditampilkannya.
Namun, demi tak mengecewakan penonton yang datang untuk menikmati tarian hip hop yang baku dan biasa. Pada bagian akhir, ketujuh penari tersebut menyajikan “sesi pencerahan” melalui atraksi individu yang sungguh-sungguh mempertunjukkan keterampilan masing-masing.

Gagal
Bila dikaitkan dengan gagasan kontemporer, menurut koreografer Jecko Siompo, penyajian Etha-dam gagal. “Lebih bagus mereka menarikan hip hop yang sesungguhnya, karena sikap kontemporernya sudah lengkap ada,” tambahnya.
Bagi dia, arti pertunjukan hip hop yang disuguhkan Etha-dam terkesan biasa, karena ia sudah menikmati konsep tarian genre sejenis di Jepang, Jerman dan Amerika Serikat yang ternyata sangat bagus.
“Apa yang ditampilkan Etha-dam tidak ada yang istimewa, kecuali diuntungkan oleh situasi panggung. Saya sarankan mereka lebih berarahan pop, karena pola tarian kontemporer malah lebih banyak dipunyai Indonesia,” ujar Jecko lebih jauh.
Penampilan kelompok penari Etha-dam di GBB ini merupakan bagian dari kegiatan seni dan budaya, “Printemps Francais 2008” (hingga 19 Juni mendatang) yang diselenggarakan sudah keempat kalinya oleh Pusat Kebudayaan Prancis di Jakarta.